Suatu mujizat aku bisa mendapat informasi tentang film ini. Agora akan membuka mata Anda tentang sejarah kelam orang Kristen awal. Di dalamnya digambarkan bagaimana agama Kristen yang berkembang pesat melakukan intimidasi terhadap penganut agama lain yang mereka nilai tidak sesuai dengan kekristenan. Pagan yang memuja dewa-dewi dan Yahudi.
Film ini berkisah tentang hidup Hypatia (Rachel Weisz), seorang filsuf dan pemikir sekaligus matematikawati yang hidup di Alexandria Mesir. Ia hidup di tengah-tengah intrik politik kehidupan beragama masyarakat di masa itu, di mana ada tiga agama yang dianut orang-orang: Pagan, Yahudi, dan Kristen. Kekristenan yang sedang berkembang mengalami peningkatan pesat dalam segi jumlah, karena dianggap merangkul lapisan masyarakat dari atas hingga ke bawah (kaum budak). Saat konfrontasi antara kaum pagan yang marah karena rumah ibadah mereka dilecehkan melawan orang Kristen, kaum pagan terkejut melihat jumlah orang Kristen yang sangat banyak dipimpin oleh barisan Parabolani (orang Kristen yang siap mati untuk Tuhan) yang mereka takuti. Mereka terkepung dan tersudut. Mereka diperbolehkan untuk tetap hidup dengan syarat agama mereka tidak lagi diakui dan Agora akan dikuasai oleh orang Kristen berdampingan dengan orang Yahudi.
Selesai dengan Pagan, orang Kristen yang dipimpin oleh Cyril sang uskup, berusaha untuk menjadikan Kristen sebagai agama utama kota itu, dan dengan demikian berusaha mengintimidasi orang Yahudi. Kekacauan kembali terjadi. Mantan murid Hypatea, Orrestes, yang telah menjadi Prefect kota terjepit secara politis: antara menegakkan hukum dan membela orang Yahudi yang tertindas, dan kenyataan bahwa ia pun seorang penganut agama Kristen. Cyril, belakangan diangkat menjadi Santo dan Bapa Gereja.
Hypatea sendiri, dengan dilarangnya agama pagan, tidak lagi mengakui agama pagannya. Namun, ia juga tak berniat untuk memeluk Kekristenan setelah melihat sendiri perilaku orang-orang Kristen yang dianggapnya tak benar. Ia mengaku percaya hanya pada filosofi. Hypatea tak bisa disalahkan. Keputusan seperti inilah yang seharusnya ditiru semua orang, jangan mengikuti agama di mana pengikutnya gemar melakukan kekerasan.
Bagi Hypatea, ia memilih mati daripada harus memilih sesuatu yang hatinya tentang. Dan itulah yang ia peroleh. Ia menemui kematian di tangan budaknya yang ‘membantu’ mencekiknya hingga mati ketimbang ia harus menemui kematian yang menyakitkan dengan dirajam batu.
Aku merasa perlakuan yang diterima orang Kristen dewasa ini, rumah ibadah dibakar, dirusak, dihancurkan, disebut sebagai Kafir, dilempari, dibunuh, dibakar, dilempari batu, adalah sebagai ‘karma’ dari perbuatan orang Kristen jaman dulu yang melakukan hal yang sama terhadap kaum lain yang lebih minor, yaitu pagan dan yahudi.
Jika aku melihat rumah ibadah orang Kristen dibakar dan umat Kristen dihinakan, aku akan ingat Agora, di mana orang Kristen membakar dan menghancurkan patung-patung milik pemuja agama pagan dan mengejek orang Yahudi. Jika di berita aku melihat orang meneriakkan slogan keagamaan sambil membunuh orang Kristen dan membakar rumah ibadah orang Kristen, maka aku akan ingat Agora, di mana orang Kristen berteriak slogan mereka “Hallelujah!” sambil membunuhi orang pagan ataupun Yahudi.
Memang jaman telah berubah, dan agama pun ber-evolusi. Kebiadaban, kekerasan dan kejahatan terhadap penganut agama lain tidak lagi dilakukan orang Kristen dewasa ini (yang ironisnya merupakan penghargaan terhadap hak asasi manusia hasil pikiran dunia sekular – a.k.a atheis!). Namun sejarah kelam itu seolah-olah menghantui. Aku menonton film ini sambil ternganga memikirkan apa yang akan kulakukan bila aku berada pada jaman itu. Sebagai orang Kristen apakah aku akan turut berjuang menghancurkan agama lain dan membunuh?
Sebagai orang Kristen inilah beban atas dosa dan kebodohan orang Kristen di masa lalu, dan sebagai Kristen hendaknya rantai karma ini diputus untuk selamanya. Sedapatnya jangan melawan saat perlakuan buruk dari luar datang menimpa. Karena perlakuan seperti itu pulalah yang cenderung akan diperbuat orang Kristen saat mereka menjadi pihak yang mayoritas.
Hypatia: Synesius, you don’t question what you believe, or cannot. I must.
Hypatia: [Looks up at night sky] If I could just unravel this just a little bit more, and just get a little closer to the answer, then… Then I would go to my grave a happy woman.